Ruben Gonzalez

Nama Ruben Gonzalez di Indonesia mungkin belum banyak dikenal. Selain dikenal sebagai business man sukses, Ruben Gonzalez sebenarnya lebih terkenal sebagai seorang motivator kelas dunia.

Kisah suksesnya sering saya pergunakan untuk menerangkan “Ukuran Kesuksesan Seseorang” dengan tujuan PASSION. OLIMPIADE selalu ditandai dengan tangis dan tawa. Kisah yang dialami Ruben Gonzalez berikut ini mungkin mewakili dikotomi tangis dan tawa itu. Sebuah upaya pembaharuan yang segala awalnya selalu sulit.

Sejak di sekolah dasar, Ruben Gonzalez sudah bercita-cita pergi ke Olimpiade. Tetapi cita-cita itu baru menggerakkan jiwanya setelah ia menyaksikan Scott Hamilton di televisi, berjaya dalam Olimpiade musim dingin di Sarajevo 1984. Sambil tersenyum ia berbicara dengan hatinya sendiri. “Kalau orang sekecil dia saja bisa menjadi pemenang, maka saya pun bisa.”

la pun segera berlatih dan mempelajari bermacam-macam jenis olah raga yang dipertandingkan di Olimpiade dari berbagai sumber di perpustakaan. la memang bukan seorang atlet, tetapi ia sadar bahwa dirinya memiliki suatu kekuatan, yaitu tahan menghadapi segala tekanan, pantang menyerah, dan konsisten.

Di sekolah ia mendapat julukan bulldog, yang artinya tidak mudah menyerah. Oleh karena itu ia pun mempelajari apa saja olahraga yang sulit, yang mudah membuat orang menyerah. Pikirannya dibuka lebar-lebar. Akhirnya ia menemukan : Luge, sejenis olah raga es yang sangat berbahaya.

Mengapa Ruben mengambil jenis olah raga ini? “Karena olah raga ini sulit. Sembilan dari sepuluh orang yang datang berlatih pasti berhenti di tengah jalan”.

la pun segera menuju tempat yang disebutkan buku, Lake Placid di New York. Telepon yang dihubungi segera menjawab.la menyebutkan dirinya seorang atlet dari Houston, Texas dan bertanya apa ia bisa belajar. Yang menerima telepon menjawab, “OK, berapa usiamu sa at ini?”. “Saya duapuluh satu:’ ujarnya dalam sebuah wawancara di majalah Sport illustrated “Wah, kamu sudah terlalu tua, kamu sudah terlambat lebih dari sepuluh tahun untuk belajar Luge. Kami melatih mereka dari usia di bawah sepuluh tahun”. Orang itu menolaknya dengan nada sinis.

Tetapi Ruben terus menggalinya dan ia menyebutkan dirinya dari Argentina. Orang itu terkejut dan mau menerima karena Luge akan dapat dipermainkan lagi di arena Olimpiade kalau jumlah negara peserta mencukupi untuk berkompetisi.

Ruben pun berangkat. Namun sebelumnya ia menerima sebuah pesan. Ada 2 hal yang harus ia ketahui.

Pertama, kalau ia mau belajar dan mau ikut olimpiade empat tahun ke depan maka hidupnya akan dipenuhi berbagai kesulitan.
Kedua, bersiap-siap menghadapi dokter bedah karena tulangnya akan patah beberapa kali. Sembilan dari sepuluh atlet yang mengundurkan diri mengalami patah tulang lebih dari sekali.

Ruben mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari pertama di Lake Placid yang dingin Ruben sudah digabungkan dengan empat belas atlet lain yang belajar dari kecil. Terbanting-banting dari hari pertama membuatnya hampir putus asa. la menangis berkali-kali, tulang dan dagingnya remuk. Semua orang memandangnya sinis dan menertawakan seakan-akan mereka ingin mengatakan “You are too old to learn. You guy from Latin America can not do this': dan seterusnya.

Sebulan setelah itu ia juga nyaris berhenti. Tetapi temannya, seorang atlet di kota lain menyuruhnya pergi ke depan cermin dan melihat dirinya sendiri di sana. Teman itu meneguhkan Ruben. la terus berlatih sampai akhirnya ia sendiri berujar;

Berulang-ulang kalimat itu ia ucapkan sampai ia merasa terbiasa dan mulai bisa mengendalikan. Ruben berhasil melewati latihan di musim panas. Sementara empat belas atlet yang sudah belajar lebih dahulu berguguran satu demi satu. Tulang-tulang mereka patah dan kalau bukan orang tuanya, mereka sendiri sudah menyerah.

Ketika orang-orang mengetahui putra Argentina berlaga, mereka juga mengejek. Semua orang tak yakin olahraga berat ini dapat ia kuasai.
Berkat kerja keras, ketekunan, dan kegigihan, Ruben Gonzalez, pada tahun 1988 melangkah gagah menerima medali emas pada olimpiade musim dingin di Calgary. la bahkan masih menjadi pemenang dalam tiga olimpiade berikutnya; Albertiville 1992 dan Salt Lake City 2002, dan Torino Winter Olimpics 2006.

Kegigihannya menimbulkan semangat dimana-mana dan sejak itu, mitos bahwa olahraga berat ini hanya bisa dimainkan oleh mereka yang dibesarkan di daerah bersalju sejak kanak-kanak, pupus sudah. Olahraga itu mulai dikenal di banyak negara tanpa salju.Anda pun bisa melakukannya, kalau DNA perubahan Anda cukup dominan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>